Pilih Bahasa

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Jumat, 01 April 2011

Piston Bore Up Favorit!

Penyuka bore up dan stroke up makin menggila. Makanya kini banyak muncul piston aftermarket favorit. Dari buatan FIM hingga Hi Speed yang from Thailand.

Ukuran dan desain mendekati gaya kompetisi. Bahkan seperti kepunyaan spesial engine alias SE. Material yang digunakan lebih kuat.

Asyiknya piston yang baru nongol ini tersedia bukan hanya untuk Yamaha. Tapi juga tersedia untuk Suzuki yang kebanyakan pakai kepunyaan Satrai F-150 untuk drag bike atau balap malam hari.

Material yang digunakan kalau yang buatan FIM lebih kuat. Bahkan proses pengerasan lebih keras dan rigid.

Antara yang buatan FIM dan Hi Speed sudah dilengkapi lapisan teflon. Sehingga bukan saja lebih licin. Tapi, juga lebih halus di soal suaranya. Kalau orang bule bilang tidak noise atawa tidak berisik.

Untuk dome juga lebih jenong. Sehingga bisa atur kompresi. Tinggal papas tingkatan jenong sesuai keinginan. Lebih lengkap lanjut baca tulisan boks. (motorplus-online.com) 

Buat Ninja dan Satria FU-150

Belum lama PT Federal Izumi Manufacturing (FIM)) meluncurkan piston bore up untuk Kawasaki Ninja 250R. Tipenya FIM25.

Standar piston Ninja ukurannya 62 mm dan lubang pen piston 16 mm. Nah, yang diluncurkan FIM versi bore up. Tersedia dua ukuran. “Size oversize 150 dan 200,” jelas Agus Salim, Marketing Department FIM.

Berarti ukuran piston yang tersedia 63,5 mm dan 64 mm. “Setara dengan piston Honda Tiger standar dan oversize 50,” jelas Agus Salim yang berbadan gempal itu.

Untuk ring piston juga sangat mudah dilacak. “Karena dirancang bisa menggunakan ring piston Honda Tiger standar dan oversize 50,” jelas brother yang kerap menyambangi event road race ini.

Enaknya piston ini bisa juga dipakai untuk bore up Suzuki Satria F 150. Karena lubang pen piston Satria F juga sama-sama 16 mm. Kelebihan piston FIM25 dirancang untuk head 4 klep. Sangat cocok di Satria dan Ninja 250R. Dome juga bisa diatur ulang sesuai kompresi yang diinginkan. Piston seharga Rp 250 ribu ini komposisi material yang dikandungnya hampir sama dengan piston racing FIM lainnya. Namun proses pengerasan lebih. Kandungan silicon juga lebih dari biasanya.

Hi Speed Pro

Hi Speed Thailand juga meluncurkan piston yang memiliki desain berbeda. Bentuknya masih seperti piston SE namun pinggangnnya lebih lebar. Ini mungkin bisa juga dipakai untuk harian.

Piston yang dikasih nama jenisnya Hi Speed Pro ini juga tersedia beberapa ukuran. “Dari mulai 58 sampai 68 mm,” kompak Miekeel Tjahjanto dari MC Racing dan Awan dari Ban Speed Galery. Kompak nih yeee...

Untuk ukuran lubang pin juga beragam. Mulai dari ukuran 13,14 dan 15 mm juga tersedia. Sehingga semua merek motor yang beredar, dipastkan hampir bisa pakai.

Perbedaan yang dimiliki piston jenis Pro ini terletak pada bentuk kepala piston. “Lebih jenong sehingga bisa menghasilkan kompresi tinggi,” jelas Miekel dari markasnya Jl. Kebon Jeruk IX, No. 20C, Kota, Jakarta Barat.

Untuk piston jenis Pro ini juga tersedia dua pilihan. Ada yang dilapisi teflon dan ada juga yang tanpa teflon. Tinggal pilih sesuai keinginan mekanik. “Harga yang ditawarkan Rp 450 ribu sudah termasuk piston, ring, pin dan klip,” kabar Miekel yang punya nomor telepon toko (021) 6289637.

Hi Speed R

Piston buatan Hi Speed Thailand ini belum lama nongol. Memiliki desain atau bentuk seperti piston milik special engine atau SE yang langganan dipakai motocross.

Bagian pinggangnya juga lebih sempit. “Sehingga minim gesekkan dengan dinding liner,” jelas Awan Kurniawan dari Ban Speed Galery itu.

Diameter yang tersedia dari ukuran 58 mm sampai 68 mm. Lubang pennya ada yang 13 mm, 14 mm dan 15 mm.

Enaknya, piston ini hanya dilengkapi dua coakan untuk tonjokan klep. Tidak seperti piston Honda CBR yang ada 4 coakan itu. Untuk motor lokal yang kebanyakan hanya 2 klep, seher CBR malah mengurangi kompresi.

Awan juga merinci soal harga. “Satu set sudah termasuk piston, ring, pin dan klip dibanderol Rp 550 ribu,” jelas Awan yang baru buka toko di Jl. Jelambar Aladin, No. 3, Tubagus Angke, Jakarta Barat ini. Memang lumayan mahal tapi, sebanding dengan bentuk dan piston yang ringan ini. Lebih lengkap informasinya silakan tanya Awan yang siap dikontek langsung di nomor 0817-000-8859.

Yamaha 70 mm

Dari sekian piston bore up, piston keluaran Yamaha Thailand ini sangat gede. Ukuran diameter piston mencapai 70 mm. Namun kode di kemasannya seperti untuk Yamaha Fino.

Aneh juga kan? Yamaha Fino kan seher standarnya hanya 52 mm. Bisa jadi untuk Fino versi bore up edan-edanan.

Seher ini punya lubang pen 15 mm. Bisa langsung plek masuk di setang seher milik Fino, Mio atau Nouvo. Namun hati-hati pantat seher bisa ditabok bandul kruk as. Kudu diukur dulu sebelum dipasang. Kalo perlu dibubut dulu biar pas.

Bentuk seher ini kepalanya seperti piston milik Scorpio. Begitupun jarak dari lubang pen sampai puncak seher mirip dengan milik motor Kalajengking itu.

Namun untuk seher segede ini sih enggak perlu jenong. “Kompresinnya juga sudah sangat gede,” jelas Miekel Tjahjanto yang menjual piston ini di rentang harga Rp 550 ribu. Banderol jual segitu tentunya juga sudah termasuk piston, ring, pin dan klip. (motorplus-online.com) 
Penulis : Aong | Teks Editor : Nurfil | Foto : GT

Ini Dia Piston Bore Up Pilihan Buat Yamaha Byson!


Ada cara mudah untuk mendongkrak power Yamaha Byson. Cukup main bore up, kapasitas silinder bengkak dipastikan bakal bikin tenaga mesin juga meningkat drastis.

Biaya yang dikeluarkan juga tidak banyak. Kurang dari sejuta sudah pasti ngacir. Namun untuk dongkrak volume silinder Byson harus menentukan dulu piston yang digunakan.

Mari bertanya pada Ko An alias Andy Mulky dari Cahaya Logam Motor. Mekanik dari Bates, Kreo, Ciledug, Tangerang itu pernah bore up Byson milik Arief Rahmanto dari Tigaraksa, Tangerang.

Menurut Ko An, piston bisa menggunakan milik Honda Tiger atau Scorpio. Kalau untuk harian cukup pakai milik Tiger. Versi aftermarket seperti buatan NPP dijual Rp 132.300. Atau menggunakan piston GL-Pro Neo Tech yang jenong. Namun jenongnya juga harus dipapas malah mubajir. Harganya Rp 137.400.

Harga segitu untuk piston ukuran standar sampai oversize 200. Lebih dari itu sampai oversize 300 dijual Rp 202.000. Dijual satu set termasuk piston, ring, pin dan klip.

Selain lebih murah, “Menggunakan piston Tiger atau GL-Pro Neo menguntungkan. Karena pen piston sama dengan milik Byson. Yaitu 15 mm,” jelas Ko An.

Namun menggunakan piston Tiger lebih tinggi 1mm. Untuk itu, kepala piston harus dipotong (gbr. 1). Supaya tidak nyundul dan tidak nabrak klep.

Kepala piston bagian samping dipotong 0,5 mm. “Sementara untuk bagian tengah, dibikin rada jenong agar kompresi lebih tinggi. Dome piston jadi seperti milik GL Pro Neo Tech,” jelas mekanik beruban yang jago karburator itu.

Selain itu, di kepala piston juga harus dibuatkan coakan. Posisinya disesuaikan letak klep di kepala silinder. Coakan ini dimaksudkan untuk laluan klep agar tidak membentur seher (gbr. 2).

Ko An pakai piston Tiger oversize 200. Diameternya 65,5 mm. Dipadu stroke standar milik Byson yang 57,9 mm. Hasilnya silinder 195 cc. Namun menggunakan piston Tiger, yang perlu diingat pantat piston (gbr. 3). Kudu dipapas 1 mm , khawatir mentok kruk as.

Akibat pemakaian piston gede ini, ruang bakar juga harus dibenahi. Dibuatkan squish mengikuti besarnya diameter piston baru (gbr. 4). Bentuk squish berupa nat seperti di Tiger standar.
 DAFTAR HARGA 
 1. Piston kit NPP  Rp 132.300
 2. Boring diesel  Rp 350.000
 3. Pasang boring  Rp 180.000
 4. Papas seher  Rp 60.000
 5. Paking  Rp 10.000
 6. Squish  Rp 50.000
 7. Pilot-jet  Rp 30.000
 Total  Rp 812.000

BORING DIESEL

Pemakaian piston gede tentunya harus diikuti penggantian boring. Supaya kuat, Ko An menggunakan boring untuk mesin diesel. Harap maklum, harganya mahal.

Boring asli Byson diselimuti aluminium yang menyatu dengan blok. Begitu dipasangi boring diesel, liner aluminium asli Byson juga masih.

Kondisi itu masih menguntungkan, selain mudah melepas panas juga masih bisa masuk ke dalam lubang crankcase standar. Diameter luar boring 73 mm, sedang diameter lubang crankcase 76 mm.

Degan begitu sebenarnya bisa juga menggunakan piston milik Scorpio 70 mm. Diameter luar boring dibikin 75 mm. Tebal boring masih ada 2,5 mm. Namun harus main bos di pen piston karena punya Tiger 15 mm sedang Scorpio 16 mm. Terakhir, Ko An mewanti harus ganti knalpot. Kalo mau ganti karbu sekalian.(motorplus-online.com)
Penulis : Aong | Teks Editor : Nurfil | Foto : Yudi

Paket Bore up Bajaj Pulsar 135, Bisa Saingi Pulsar 180!


Jakarta - Motor batangan versi kompak keluaran Bajaj yang satu ini memang banyak jadi andalan. Mesin 135 cc yang powerful lagi hemat dikemas dengan harga terjangkau. Belum lagi teknologi pengapian ganda dan multivalves yang jadi kelengkapan standar.

Hanya saja, banyak merasa belum puas dengan kapasitas mesin 135 cc yang dianggap tanggung. “Kalau bisa 150 atau 160 cc pastinya bisa bersaing performa dengan sang kakak yang mengusung 180 cc,” jelas Cahyo yang menggeber Pulsar 135 versi bored-up.


Piston Thunder 125 oversize: 50 untuk kapasitas 148 cc (kiri). Bubut noken as pada bagian pinggang untuk akselerasi bawah (kanan)
Lantas apa saja sih, paketan yang bisa dipakai untuk mendongkrak volume mesin? Bicara spesifikasi, Kiki Gustiawan angkat bicara. Pasalnya, Pulsar 135 bored-up milik Cahyo hasil olahan bengkelnya.

Peningkatan kapasitas bisa leluasa karena jarak PCD (pitch circle diameter) Pulsar 135 cukup besar. “Mau pakai piston 60 mm juga masih bisa tanpa harus geser ke-4 stud,” urai Kiki di bengkelnya, Joery Racing di Kebon Jeruk, Jakbar.

Tetapi kalau mau versi harian, silakan bore-up pakai piston Suzuki Thunder 125 oversize 0.50. Bicara dimensi dan ukuran, identik dengan piston Pulsar 135. “Hanya saja, top piston agak nongol sekitar 1,4 mm,” terang Juki, panggilan sayang Kiki.


Paking blok aluminium 1,5 mm agar piston mendem 0,1 mm
Untuk itu, sediakan paking blok alias adaptor aluminium untuk bisa membuat piston mendelep. “Buat paking aluminium setebal 1,5 mm agar piston bisa terbenam sekitar 0,1 mm,” terang pria ramah ini.

Buat Juki komposisi ini sudah pas karena top piston Thunder 125 memiliki desain flat top. Sementara pin piston tak ada masalah karena diameter sama persis dengan Pulsar 135, yakni 14 mm. Selesai sudah, Pulsar 135 langsung meningkat menjadi 152,6 cc bermodal piston 57,5 mm (oversize 0.50).

Tetapi kalau akselerasi tetap galak di putaran bawah, bisa bubut camshaft standar pada bagian pinggang alias LSA agar lebih ramping. “Bubut sedikit saja, paling banter 0,3 mm biar akselerasi terjaga karena kapasitas mesin yang sudah lebih besar,” terangnya.

Dengan perbandingan kompresi 11:1 dianggap masih layak pakai untuk harian dengan bahan bakar premium. Tetapi kalau mau yahud, jejali Pertamax 92 untuk lifetime mesin yang telah menghabiskan dana sekitar Rp 1,4 juta untuk bore-up ini.  (motorplus.otomotifnet.com)
Penulis : KL:X | Teks Editor : AZ | Foto : Aant, KLX

Aplikasi Keihin 28 di Thunder 125, Bisa Tapi Harus Bore Up 150 cc

 
Jakarta - Karburator Keihin tipe PE 28 emang lagi laris manis. Hampir semua besutan yang sudah dioprek, pakai karbu yang awalnya nempel di Honda NSR 150 SP itu. Tak terkecuali pemakai Suzuki Thunder 125.

Kelebihan yang ditawarkan terutama ukuran venturi yang lumayan besar (28 mm), skep model konvensional dan kemudahan pada penyetingan.

Hampir semua mekanik mengakui, mudahnya menemukan setelan karbu yang dijajakan antara Rp 450-650 ribu ini, demikian juga soal ketersediaan spuyer dan jarum skepnya.

Kembali ke Thunder 125. Ternyata untuk memasangnya cukup mudah, namun ada beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Seperti dituturkan Aldhie dari Bike Rider Shop (BRS), “Lebih cocok diaplikasi di motor yang sudah bore-up,” urainya. Minimal sudah 150 cc, misal pakai piston Satria FU (62 mm).

Mengapa demikian? Kata Aldhie jika diterapkan di motor standar, efeknya tak terlalu terasa. Malah suplai campuran bahan bakar dan udara jadi berlebihan. “Pasti ada enggak enaknya, bisa atasnya atau bawahnya. Masih lebih enak pakai standarnya,” lanjut pebengkel di Jl. Swakarsa I No.6, Kalimalang, Bekasi.

Nah jika Thunder 125 Anda sudah di-bore-up, boleh ikutan aplikasi. Siapkan karbunya yang bisa didapat speed shop terdekat. Lalu cari kabel gas baru, karena PE 28 model skep jadi beda bentuk ujungnya. Pakai punya apa?

“Cari punya Shogun, namun masih mesti memotong dan ujungnya dibikin ulang pakai solder atau benang yang dilem berdaya rekat kuat,” lanjut Aldie.


Tapi kalau mau yang lebih simpel, bisa pilih cara Jainal Arifin Siregar dari Ucok Motor Speed (UMS). “Pakai kabel gas Honda GL 100 Platina,” tuturnya. Menurutnya panjang sama persis dan tak perlu ubahan pada ujung kabel, “Cuma pemasangan di holder sistem ulir.”

Bila sudah lengkap, lepas karburator standar dengan membuka kedua klem pakai obeng plus. Lalu kabel gasnya dengan kunci pas 10 dan kabel cuk. Jangan lupa juga cabut slang bensinnya.

Masih pakai obeng plus, lanjut melepas kabel gas di holder. Nah pasang kabel gas milik GL 100, karena model ulir langsung putar saja hingga mengencang dan kencangkan murnya pakai kunci pas 14 (gbr.1). Nah lanjutkan pasang karbu di intake manifold (gbr.2), karena panjang karbu sama, pemasangan pun bisa PnP. Kemudian pasang kabel gas di skepnya (gbr.3).

Terakhir tinggal setting karbu, terutama ukuran spuyer. Menurut Aldhie jika pakai piston Satria FU besarnya tak jauh dari kombinasi 42 (pilot jet) dan 122 (main jet). “Kalau open filter main jet bisa 125,” tutupnya. (motorplus.otomotifnet.com)

Bike Rider Shop (BRS) : 021-68866543/0816-1350616
Ucok Motor Speed (UMS) : 0812-9096608

Penulis : Aant | Teks Editor : AZ | Foto : Aant

Rabu, 30 Maret 2011

Pilihan Settingan Bore-Up Jupiter MX 135, Bisa Naik 17 dk!

Jakarta - Untuk pembesut Yamaha Jupiter MX yang dalam waktu dekat berencana meng-upgrade performanya, simak deh baik-baik ulasan berikut. Terutama yang berniat mengaplikasi paket bore-up-nya yang belakangan banyak beredar.
 
Begitu pula bagi yang sudah menerapkannya, tapi belum menemukan settingan pas. Sehingga performa tak sesuai yang diharapkan. Sebab beberapa bengkel top di Jakarta yang beberapa kali menangani bore-up MX mau kasih bocoran soal settingan yang pernah mereka terapkan.

Nah, ada beberapa pilihan bore-up yang bisa didiaplikasi buat motor ini. “Mulai piston standar V-Ixion (57 mm), 58 mm, 60 mm, 61 mm dan 62 mm. Tapi kalau buat harian, maksimal pakai 60 mm saja atau cukup 58 mm,” bilang Teddy Cong, punggawa PT Globar Motorindo (GM) di kawasan Galur, Cempaka Putih, Jakpus.

Kalo pilihannya pembesaran kapasitas kayak V-Ixion (149,8 cc), ”Bisa aplikasi blok silinder V-Ixion berikut piston orisinalnya,” tukas Ari Setiawan alias Kurok, mantan mekanik racing AHRS yang hijrah ke GM.

Pada pilihan ini, kata Kurok karburator standar masih cukup mumpuni digunakan. “Namun perlu rejetting. Main jet dan pilot jet dinaikkan 1 step. Tapi sebelumnya, saluran masuk dan buang sebaiknya di-porting dulu untuk mengimbangi volume silinder yang bertambah,” terangnya.

Lalu saluran gas buang alias knalpot dibikin lebih plong. Bisa membobok saringan knalpot standar, atau adopsi knalpot freeflow aftermarket. “Biasanya gue pakai knalpot AHRS F4. Trus, CDI-nya diganti pakai Rextor Adjustable dan gir belakang diturunin 2 mata,” tambah Kurok.

Hasilnya, selain horse power bisa terkerek 4-5 dk, top speed dijamin melonjak banyak lantaran perbandingan final gear diberatkan. “Tapi kalau mau lebih gede lagi powernya, kem ganti pakai yang durasinya tinggi untuk harian,” ujarnya. Oh iya, tak lupa paking blok maupun head kudu diganti pakai punya V-Ixion.

Pakai PE28 hasil bakal lebih maksimal (kiri). Untuk karburator standar, spuyer dinaikkan 1 - 2 step sesuai permintaan mesin (kanan).
Sementara bila paket bore-up piston 58 mm (155 cc) yang dikehendaki dan ingin horse power mencapai 17 dk, boleh tiru settingan yang diterapkan Suar, mekanik Bintang Racing Team (BRT) yang bermarkas di Cibinong Jabar.

“Saluran masuk dan buang tetap mesti di-porting polish. Lalu kem diganti punya V-Ixion. Dibarengi menukar per klep lebih keras dikit. Bisa andalkan produk CLD. Lalu knalpot standar dibobok dan karburator pakai Keihin PE28 dengan kombinasi spuyer 115/38 (main jet/pilot jet),” beber Suar.

Pada sektor pengapian, CDI ditukar pakai BRT I-Max 20 Step. Lalu setelan klep in dibikin 0,13 mm. Sedang klep out 0,18 mm. Lalu biar kinerja kopling gak mudah selip, per dan kampas kopling diganti pakai produk BRT.

Cobain deh! (mobil.otomotifnet.com)
Penulis : DiC | Teks Editor : AZ | Foto : Reza

Paket Korek Harian Enak Honda CS1, Mulai Rp 1-3 Jutaan


Knalpot standar cukup dibobok dan setting ulang sekatnya
Jakarta - Meski sudah berkapasitas 124,7 cc, masih banyak pemilik  Honda CS1 yang kurang puas dengan tarikan awalnya, “Makanya, ada yang upgrade pengapian, knalpot dan lainnya demi mengejar atau sekadar tambah akselerasi,” ucap Wahyudin, pemilik Honda CS1.

Untuk memungkinkan hal itu, perlu adanya penambahan part tertentu sebagai pendukung agar tenaga mesin tak terbuang percuma. Nah, kalau Anda penasaran, kami membeberkan hasil pencarian dari beberapa bengkel yang biasa kasih pakohnak alias paket korek harian enak buat mesin si CS1 ini.

Menurut Hendry pemilik bengkel Triwarna Speed (TS), pakhonak bisa jadi solusi nyembuhin penyakit Honda CS1 di putaran bawah yang kurang greng. “Karbu standar kadang suka lemot merespon putaran grip gas, makanya mesti diganti tipe racing berikut CDI non-limit dan knalpot aftermarket,” katanya.

Untuk otak pengapian, TS lebih pilih CDI BRT tipe dualband, yang punya kelebihan putaran mesin bisa tembus di atas 13 ribu rpm dalam keadaan gigi netral. Proses porting polish tetap ada dan ditambahkan karbu PE 28 dan bobok knalpot.

“Hasilnya, ruang bakar jadi lebih padat. Setelah selesai, pemilik besutan mesti mencoba dan mengoreksi bagian ke­kurangannya agar sesuai kapasitas yang ada,” ungkap pria yang buka bengkel di kawasan Kelapa Dua, Depok.

Lainnya, ada juga bengkel di Jl. Lapangan Bola No.35, Kebon Jeruk, Jakbar ini, punya kategori pilihan yang biasa diminta para speedgoers. Syaratnya, pakhonak yang tersedia kudu mengganti di beberapa titik jika mau oke besutan Anda.

Pilihan koil juga bisa jadi alternatif lain (kiri). Karbu Honda NSR SP karbu sejuta umat (kanan).

Biasanya karbu Honda NSR SP berventuri 28 mm, CDI hanya diset­ting ulang timming pengapiannya, por­­ting polish, papas noken as, ganti klep in dan knalpot. “Koil juga penting, untuk meningkatkan lompatan bunga api di busi, bisa pakai punya motor trail Yamaha YZF 125 atau Honda CRF, agar kerja mesin lebih ringan dan maksimal. Sudah paling pas deh buat harian,” terang Ando pemilik bengkel PSC.

Beda cerita Fiki Farhan pemilik bengkel Fiki Motor (FM) yang sudah biasa menangani korekan buat Honda CS1. “Kalo buat harian jangan terlalu ekstrem beda dengan balap resmi, cukup perbaiki performa ditarikan awal saja, yang penting gak malu-maluin diajak ngacir,” kata pria yang buka bengkel di daerah Jatiwaringin, Pondok Gede, Bekasi.

Nah, untuk mewujudkan hal itu, menurutnya ada beberapa komponen yang harus diubah. Misal mengganti jeroan karbu standar (pilot jet/main jet) dan otak pengapian pakai CDI BRT dualband atau Rextor. Apa knalpot juga diganti tipe racing Bos?

“Gak usah, knalpot cukup dibobok, bagian dalam silencer kita atur ulang posisinya agar tak terlalu banyak sekat atau saringan, sehingga gas buang lebih plong dan kita seting ulang spuyernya sampai maksimal, dari situ bisa diketahui sebatas mana CS1 ini untuk korek harian,” yakinnya.

Gak perlu heboh, kan? (motorplus.otomotifnet.com)

 Daftar Paket
 PSC (021-9381-2006)
 Porting polish + jasa: Rp 350.000
 Klep in: Rp 200.000
 Setting CDI: Rp 100.000
 Setting noken as: Rp 250.000
 Karbu Honda NSR SP 28 mm: Rp 500.000
 Koil YZF 125: Rp 1.200.000
 Busi Iridium: Rp 100.000
 Knalpot bobok: Rp 350.000
 Total: Rp 3.050.000
 TS (0816-585-1546)
 Porting Polish + jasa: Rp 350.000
 Karbu Honda NSR SP 28 mm: Rp 500.000
 CDI BRT Non-programmable dual band: Rp 500.000  
 Open filter racing: Rp 250.000
 Busi Iridium: Rp 100.000
 Knalpot bobok: Rp 350.000
 Total: Rp 2.050.000
 FM (021-9223-4086)
 Porting Polish + jasa: Rp 300.000
 Koil aftermarket: Rp 150.000
 CDI BRT Non-programmable dualband: Rp 500.000
 Busi Denso: Rp 25.000
 Setting karbu: Rp 50.000
 Knalpot bobok: Rp 250.000
 Total: Rp 1.275.000

Penulis : Pidav | Teks Editor : AZ | Foto : Pidav

Aplikasi Bore Up Ninja 250R, Perhatikan Rasio Kompresi!

Jakarta - Kendati Kawasaki Ninja 250R sudah punya power yang tergolong besar, di atas dynamometer sekitar 26-27 dk, selalu ada yang merasa kurang puas. Untuk meningkatkannya, marak yang melakukan bore-up.

Mesin motor yang diproduksi di Thailand ini berspesifikasi 4 langkah DOHC 2 silinder. Tiap silinder diisi piston berdiameter 62 mm dengan langkah 41,2 mm. Volumenya jadi 124,32 cc. Dua silinder berarti jumlahnya 248,64 cc.

Nah bore-up menggunakan piston aftermarket bergaris tengah 64 mm, atau oversize 200. Artinya jika dihitung ulang menjadi 264,94 cc. Pemasangan cukup mengorter silinder standar.

Namun ternyata setelah bore-up belum tentu lebih ngacir. Seperti diungkap salah satu pengguna Ninja 250R yang tak mau disebut namanya. “Malah kalah kencang dari motor standar,” ungkapnya. Lho kok bisa, ya?

Ternyata setelah dibongkar dan dianalisa, piston yang digunakan memang 64 mm, namun dome piston lebih rendah dari piston standar. Terlihat jika kedua piston dipasangkan dalam satu pen. “Kompresi tentu jadi lebih rendah,” terang Andi Agus, kepala mekanik Motor City Ciputat. Efeknya jelas lari motor malah kalah ngacir.

“Pasti itu pakai piston aftermarket untuk Suzuki Satria,” sambar Imam Gunawan, mekanik Sportisi Motorsport. Masih menurutnya, pakai piston ini lantaran murah, termasuk ring sepasang hanya sekitar Rp 1 juta. Bandingkan dengan aftermarket khusus Ninja 250R, seperti JE Piston atau Wiseco yang berada di angka sekitar Rp 4 juta.

Kelemahan piston Satria ya itu tadi, dome piston lebih rendah sehingga kompresi jadi low. Ledakan di ruang bakar pun kalah dasyat dari standar. Jika ingin tetap pakai piston ini mesti ditambal dengan las argon.
 
Dome lebih rendah dari standar, bikin rasio kompresi turun (kiri). Pilih yang didesain khusus Ninja 250R, sehingga kompresi sama atau lebih tinggi (kanan).
Andi menyarankan sebelum pasang pastikan ukur dulu jarak puncak piston ke lubang pen. “Jangan sampai lebih rendah.” Dan kalau mau lebih bengis, pakai yang punya dome lebih tinggi. Di pasaran ada yang menyediakan rasio kompresi jadi 12,5:1 dari standarnya yang 11,6:1. Contohnya produk JE Piston.

Oh iya, setelah aplikasi piston bore-up, biar awet dan ngacir mesti ada beberapa penyesuaian. “Tingkatkan kemampuan pendinginan dan setting ulang spuyer,” lanjut mekanik berkacamata ini.

Pendinginan ditingkatkan dengan menambah radiator. Bisa mencomot satu radiator milik Kawasaki KLX 250, lalu jalurnya dibuatkan pencabangan. “Sehingga suhu mesin tetap terjaga,” lanjutnya.

Sedang setting ulang spuyer pun jadi hal wajib, biar ruang bakar tak terlalu kering seiring meningkatnya volume. “Pakai filter open, spuyer kombinasi sekitar 45 dan 110, jika standar tak jauh dari 42 dan 108,” tutup mekanik ramah ini. (motorplus.otomotifnet.com)

Oke deh Bos!
Penulis : Aant | Teks Editor : AZ | Foto : Aant

Upgrade Mio Budget Rp 1,2 Juta, Tenaga Naik 3,432 DK Cuy!

Jakarta- Berencana upgrade performa Yamaha Mio kesayangan makin responsif dan tambah kenceng? Tak ada salahnya meniru hasil racikan tunggangan milik Ricky, warga Bintaro, Jaksel ini. Pasalnya harganya terjangkau, serta pengerjaannya cepat serta enggak perlu rawat inap di bengkel.

“Harga paketannya cukup bersahabat; Rp 1,2 juta dan pengerjaannya hanya sehari. Setelah dites pakai mesin dyno, power-nya nambah 3,432 dk. Pokoknya dijamin puas deh,” ujar pembesut Mio Sporty lansiran 2009 ini.

Wow.. mantap Gan! Pasti ubahannya banyak? “Cuma pasang blok mesin baru plus piston set diameter 58, 5 mm (150 cc) dan aplikasi knalpot freeflow SKR. Part pendukung lainnya; spuyer X-treme 15/115, roller X-treme 11 gr, cop busi Power, busi Autolite 4194 dan paking blok (gbr.1),” sahut Muh. Suryadi, kepala mekanik Ultraspeed Racing (UR).
 
Selain aplikasi peranti di atas, dalam satu paket, pria akrab disapa Choky ini juga melakukan atur ulang squish head (gbr.2). Tujuannya tak lain agar diameter permukaan head sesuai sama diameter piston yang tambah besar.

“Ujungnya piston tidak bakal nabrak permukaan bibir head. Squish-nya saya desain jadi 9° saja,” aku pria yang ngepos di Jl. H. Mencong No.42, Ciledug, Tangerang.
Enggak ketinggalan, porting polish lubang intake dan exhaust pada head mesin (gbr.3) juga dilakukan Choky. “Tujuannya agar peredaran BBM yang masuk ke ruang bakar maupun peredaran gas buang lebih optimal. Pemapasannya tidak banyak, sekitar 1 mm saja kok,” akunya.

Nah setelah tunggangan digarap sehari serta dilakukan penyesuaian dan setting sana-sini, besutan dites mesin dyno dynamometer DYNAmite milik UR (gbr.4). Sebelum di-upgrade/bore-up, kondisi masih standar, diperoleh power puncak 6,758 dk/8.600 rpm dan torsinya 6,044 Nm/.933 rpm.

Lalu setelah di-upgrade tercatat power maksimalnya 10,19 dk/7.719 rpm dan torsi 10,67 Nm/6.619 rpm. Ini menunjukkan ada kenaikan power sebesar 3,432 dk sedangkan torsinya bertambah 4,626 Nm.

Masih penasaran? Keterangan lebih komplet bisa sambangi UR langsung. Namun untuk pertimbangan harga maupun hasil garapan, sebelumnya bisa cari referensi ke bengkel lain terlebih dulu. (motorplus.otomotifnet.com)

 Hasil Dyno  
 Standar  Upgrade   Kenaikan 
 Power  6,758 dk/8.600 rpm  10,19 dk/7.719 rpm  3,432 dk
 Torsi  6,044 Nm/.933 rpm  10,67 Nm/6.619 rpm  4,626 Nm
 Ultraspeed Racing : 021-93858080/021-7313886   

Penulis : Banar | Teks Editor : AZ | Foto : Banar

Modifikasi Knalpot, Tampang Standar Tenaga Tetap Gahar

 
Tangerang - Seiring disosialisasikan undang-undang yang melarang sepeda motor aplikasi knalpot model racing di beberapa daerah/kota, membuat bikers yang suka upgrade performa lewat pemasangan gas buang tipe ini, sedikit gelisah dan resah.

“Gimana enggak cemas kalau tiba-tiba ditilang Polisi karena knalpotnya sudah tidak standar. Padahal, biar matik ini tambah ngacir serta akselerasinya cepet saat menyalip serta menerabas kemacetan, peranti model freeflow ini salah satu andalan utamanya,” ujar Rahmadi, pembesut Yamaha Mio.

Eits jangan berkecil hati dulu! Biar tampilannya terlihat standar namun tenaganya tetap gahar, para pencinta kecepatan punya solusi. Yakni knalpot standar bawaan motor di-custom (gbr.1) sesuai karakter mesin dan kebutuhan.

“Agar tampilan tetap standar, yang dilakukan, bobok knalpot. Ada juga yang order ganti leher, membungkus knalpot racing dengan cover model standar dan terakhir ganti knalpot aftermarket model standar,” beber Gondrong, bos knalpot SKR.

Biar ada gambaran jelas knalpot custom yang lagi happening di kalangan penggila motor kenceng maupun pencinta turing, berikut dibeberkan apa saja yang dilakukan. Markipat (mari kita merapat)! (motorplus.otomotifnet.com)

Bobok Knalpot

Pengerjaan ini, menghilangkan isi (sekat-sekat/katalis) (gbr.2) di dalam silencer agar peredaran gas buang dari mesin lebih plong, dengan cara membelah silencer-nya lebih dulu. Sehingga bisa menghasilkan power lebih besar dibanding standar.

“Pengerjaan sekitar 2 jam. Ongkosnya kisaran Rp 100-150 ribu, tergantung ordernya mau dipakai untuk motor harian atau spek balap,” imbuh bos SKR yang ngepos di Jl. Raden Patah No.90, Pasar Lembang, Ciledug, Tangerang.

Ganti Leher Knalpot

Bagi yang enggak ingin suara knalpotnya terlalu berisik, tapi tenaganya bertambah, ganti leher knalpot dengan pipa berdiameter lebih besar juga sering dilakukan (gbr.3). Prosesnya cepat, sekitar 1 jam. Biayanya Rp 50–150 ribu, tergantung panjang pendeknya pipa yang diganti.

“Penggantian pipa ini biasa dilakukan 2 step. Intinya leher pertama (atas) yang terhubung dengan mesin, lebih besar dibanding standar. Lalu pipa kedua yang terhubung sama silencer, lebih besar dari pipa pertama,” ujar Edi Karyadi, juragan knalpot 3D1 di Jl. Raya Depok, Sawangan, Jabar.

Cover knalpot

Bagi motormania yang sudah menemukan setingan knalpot pas/sesuai karakter tunggangan, namun masih kelihatan model racing, juga bisa diakali. Yaitu membungkus knalpot racing itu dengan cover knalpot standar maupun custom (bikinan) yang didesain mirip bentuk knalpot standar motor yang dipakai (gbr.4).

“Kalau proses bikin cover knalpot biayanya agak mahal, Rp 150-250.000. Pengerjaan paling lama 2 jam. Tapi, hasilnya tetap mirip knalpot standarnya,” yakin Edi.

Aftermarket Model Standar

Nah, bagi yang tidak mau repot menunggu lama knalpot standarnya di permak, bisa langsung pasang knalpot aftermarket racing model standar (gbr.5). Harganya bervariasi, mulai Rp 350-550 ribu, tergantung bahan silencer-nya; aluminium, pelat esser, berlapis krom atau stainless.

“Urusan bentuk/tampilan dijamin mirip knalpot standar. Berhubung knalpot bikinan saya bahan dasarnya full stainless, harganya agak mahal. Untuk motor matik dan bebek Rp 450 ribu, tapi kalau tipe sport Rp 550 ribu,” imbuh Marno, juragan knalpot MS-3 di Jl. Ciledug Raya 29C, Kreo, Ciledug, Tangerang.

 Estimasi biaya knalpot custom  
 Pengerjaan  Harga  Waktu
 Bobok knalpot  Rp 100–150 ribu    2 jam
 Ganti leher  Rp 50-150 ribu  1 jam
 Cover knalpot  Rp 150–250 ribu  2 jam
 Aftermarket standar  Rp 350–550 ribu  30 menit 
 SKR : 021-80220069 & 0815-13943798
 3D1 : 021-7520406 & 0818-674449
 MS3 : 021-99833364 & 0813-10518645  

Penulis : Banar | Teks Editor : AZ | Foto : Banar

Pilihan Paket Bore Up TVS

 
Jakarta - Mau membore-up motor TVS (Apache RTR 160, Rockz 125 atau Neo 110 X3i)? Bisa! Gak perlu pusing. Karena sekarang beberapa bengkel siap melayani kebutuhan Anda, yup dalam kemasan paket. Soal harga, juga bervariatif, sesuai isi kantong.

Contoh RTR. “Bisa pasang piston Honda Tiger versi aftermarket berlabel NPR berdiameter 63,5 mm. Kapasitas ruang bakar jadi 167,4 cc. Lalu porting-polish, ganti koil racing merek Protec, naikin spuyer dan aplikasi knalpot freeflow SKR,” urai Choky, kepala mekanik Ultra Speed di Jl. H. Mencong No. 42 Ciledug, Tangerang

Begitu juga kata Adrian, bos Adrian Motor di Jl. Raya Jatiwaringin No. 251, Pd. Gede, Bekasi. “Selain aplikasi seher Tiger standar merek NPP, saya juga aplikasi CDI BRT, porting-polish dan pasang knalpot custom model freeflow. Gak ekstrem sih, tapi dijamin lebih nendang,” ungkapnya.

Lalu buat RockZ 125, Ujang, kepala mekanik Phoenix Custom yang ngepos di Jl. Raya Bekasi Timur No.2, Cipinang, Jaktim, andalkan piston Suzuki Thunder 125 diameter 58 mm (oversize 100) berlabel NPR.

“Kapasitas ruang bakar jadi 128,9 cc. Meski tidak heboh, tapi dijamin makin ngacir. Sebab ubahan lainnya adalah porting-polish, ganti knalpot freeflow dan aplikasi booster pengapian APS,” kekeh mekanik berpengalaman lebih dari 10 tahun ini.

Tak ketinggalan, untuk dongkrak performa TVS Neo X3i 110, Ujang juga lakukan hal sama. “Bedanya untuk motor tipe ini, saya aplikasi piston Kawasaki Blitz Joy diameter 56 mm merek NPR. Volume ruang bakarnya jadi 120,1 cc,” imbuhnya.

Sama halnya dilakukan Choky. Untuk memperbesar kapasitas ruang bakar Rockz 125, pria pengalaman lebih dari 3 tahun ini aplikasi seher Suzuki Thunder 125 oversize 150, berdiameter 58,5 mm berlabel NPR. Kapasitas mesin jadi 131,1 cc.



Nah bagi motormania pembesut produk TVS seperti disebut tadi yang berencana bore-up mesinnya, sebagai gambaran dan pertimbangan, bisa sambangi bengkel di atas.

 Daftar Paket Bore-Up   
   Apache RTR  RockZ 125  Neo X3i 110
 Ultra Speed
 (021-93858080)
Bore-up 167,4 cc = Rp 1.060.000.

Isi paket: piston NPR 63,5 mm, porting-polish, spuyer, koil Protec, knalpot SKR. Pengerjaan 2 hari.
Bore-up 131,1 cc = Rp 1.250.000.

Isi paket: piston NPR 58,5 mm, porting-polish, spuyer, koil Protec, knalpot SKR, CDI racing. Pengerjaan 2 hari.
Bore-up 124,5 cc = Rp 1.320.000.

Isi paket:piston NPR 57 mm, porting-polish, spuyer, koil Protec, per kopling racing, knalpot SKR, CDI racing. Pengerjaan 2 hari.
 Phoenix Custom
 (0812-10116060)
Bore up 167,4 cc = Rp 1.685.000.

Isi Paket: piston NPR 63,5 mm, porting-polish, spuyer, APS booster, per kopling racing, knalpot freeflow stainless. Pengerjaan 3 hari.
Bore-up 131,1 cc = Rp 1.270.000.

Isi paket: piston NPR 58,5 mm, porting-polish, spuyer, APS booster, per kopling racing, knalpot free flow stainless. Pengerjaan 3 hari.
Bore-up 120,1 cc = Rp 1.235.000.

Isi paket:piston NPR 56 mm, porting-polish, spuyer, APS booster, per kopling racing, knalpot free flow stainless. Pengerjaan 3 hari.
 Adrian Motor
 (021-94268128)
Bore-up 167,4 cc = Rp 1.750.000.

Isi Paket: piston NPP 63,5 mm, porting-polish, spuyer, CDI BRT, knalpot free flow stainless. Pengerjaan 3 hari.
Bore-up 131,1 cc = Rp 950 ribu.

Isi paket: piston NPP 58,5 mm, porting-polish, spuyer, knalpot free flow stainless. Pengerjaan 3 hari.
Bore-up 120,1 cc = Rp 950 ribu.

Isi paket: piston NPR 56 mm, porting-polish, spuyer, knalpot free flow stainless. Pengerjaan 3 hari.
 Catatan Diameter x langkah = 62 x 52,9 = 159,7 cc Diameter x langkah = 57 x 48,8 = 124,5 cc Diameter x langkah = 53,5 x 48,8 = 109,7 cc

Paket Bore-Up Bajaj Pulsar 180 & 200 DTS-i



Jakarta- Motor sport asal India ini memang punya daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Terutama dari segi tampilan. Makanya, wajar kalau Bajaj Pulsar, baik 180 maupun 200 DTS-i, masih punya kans tinggi untuk jadi pilihan bagi para penyuka motor jenis sport non-Jepang.

Apalagi kini untuk meng-upgrade performa dapur pacunya sudah lumayan banyak pilihan part-part-nya. Termasuk untuk memperbesar kapasitas silindernya alias bore up.

Malah beberapa bengkel ada yang menawarkan paket pembesaran volume silinder plus-plus. Maksudnya selain gedein cc, ada tambahan oprekan lainnya untuk memaksimal performa mesin.

Seperti yang ditawarkan MJ Motor (MJM) di Jl. Sultan Iskandar Muda, Arteri Pondok Indah, Jaksel. “Paket yang kami tawarkan sudah termasuk setting karburator plus porting polish untuk mendapatkan hasil yang lebih maksimal,” terang Said, juragan MJM.

Pembesaran kapasitas mesin Pulsar, baik yang 180 maupun 200 cc ada beberapa pilihan. Mulai yang mengaplikasi piston Pulsar 200 (67 mm) di Pulsar 180, piston Yamaha Scorpio (71 mm) hingga produk aftermarket dengan diemeter mulai 67 – 74,5 mm.

Oh iya, baik Pulsar 180 maupun 200 mengusung langkah piston (stroke) yang sama, yakni 56,4 mm. Keduanya menganut konstruksi ruang bakar oversquare. Namun meski punya stroke sama, kedua motor tentu punya ketebalan liner silinder yang berbeda. “Untuk Pulsar 180, kalau dibore-up pakai piston Pulsar 200 tidak perlu sampai ganti liner. Tapi di atas itu, wajib ganti,” terangnya.

Sementara untuk Pulsar 200, lanjut Said, liner-nya masih mampu dijejali piston berdiameter 71 mm milik Scorpio. “Ketebalan liner-nya masih tersisa 1,5 mm kalau pakai piston ini (Scorpio std),” jelas Said. Kapasitas mesin yang akan didapat yakni 223,2 cc. Setara deh sama Scorpio.

Nah, untuk paket piston Scorpio itu, MJM pasang harga Rp 800 ribu buat Pulsar 200. Sementara untuk Pulsar 180, lantaran boring silinder mesti diganti, harganya lebih mahal Rp 300 ribu (jadi Rp 1,1 juta). “Boring-nya kami pakai punya mobil diesel. Lebih kuat dan tahan kompresi tinggi,” tukas Said.

Sedangkan bila ingin mengaplikasi piston aftermarket, MJM merekomendasikan produk LHK. “Piston LHK ini kontur kepala pistonnya sudah gak perlu dimodifikasi lagi. Tinggal pasang. Paling cuma perlu menyesuaikan pin pistonnya saja. Karena bawaan piston LHK pakai pin piston berdiameter 16 mm,” tambah Said.

Paling sering diaplikasi para Pulsarian (baik Pulsar 180 maupun 200), yakni yang berdiameter 73 mm. Kapasitas yang akan didapat adalah 235,9 cc. “Sebenarnya masih bisa sampai piston 74,5 mm (jadi 245,7 cc). Tapi kebanyakan pada milih yang 73 mm,” ujarnya.

Untuk paket piston LHK tersebut, MJM pasang harga Rp 1,3 juta. “Soalnya harga piston setnya saja sudah Rp 400 ribu sendiri. Semua paket tersebut sudah berikut porting polish dan rejetting karburator plus setting mesin sampai jadi. Pemilik motor terima beres,” ucap Said.

Kalau ingin hasilnya lebih maksi lagi, bisa ditambah ganti karburator pakai PE 28 custom dari Thailand yang sudah direamer jadi 32 mm. “Nyetting pakai karburator ini gampang dan hasilnya bikin tenaga mesin lebih keluar. Harganya Rp 950 ribu,” tutupnya.

Tertarik? (motorplus.otomotifnet.com)

Pilihan Performance Parts Untuk Motor Sport Yamaha

Bosan dengan kondisi standar dan biasa-biasa saja, tentu perlu mencari cara agar tunggangan makin sip untuk ditunggangi. Prinsipnya, motor masih bisa diajak berkeliling-keliling santai, tetapi kalau diajak berlari kencang, enggak masalah, tinggal pelintir grip gas langsung ngacir agar yang lain semakin ketinggalan.

Tentu bukan sekadar mengisi tangki bensin penuh-penuh dan niat yang kuat saja, mesin sebagai jantung dan sumber tenaga penggerak, perlu diberi ramuan khusus agar kuat berlari.

Paket bore-up V-ixion, kapasitas mendekati 166 cc

Knalpot, agar gas buang lancar ke luar
Untuk Yamaha V-Ixion, Scorpio Z dan Byson bisa saja melakukan modifikasi pada mesin dan perangkat lainnya agar mewujudkan keinginan ini.

Yamaha V-Ixion, boleh dibilang mengusung teknologi canggih dengan sistem pasokan bahan bakar injeksinya. Tetapi, bukan berarti enggak bisa diutak atik agar larinya bertambah kencang. Melakukan modifikasi seperti motor lainnya bisa, kok.

Agar kapasitas mesin meningkat bisa menggunakan piston berdiameter lebih besar, seperti paket yang ditawarkan Mitra2000, dengan paket plug n play bore-up V-Ixion. Paket ini terdiri dari blok mesin piston berikut ringnya.

Paket bore-up ini pun ada yang berasal dari Thailand, dengan piston berdiameter 60 milimeter, mampu membuat kapasitas mesin V-Ixion membengkak jadi 165,9 cc. Dengan kapasitas mesin lebih besar, tentu tenaga dan torsinya akan meningkat, otomatis entakan tenaga yang dihasilkan akan lebih melonjak.

Lantas pembenahan pada camshaft bukanlah hal tabu. Bisa saja mengubah durasinya menjadi lebih tinggi dari standarnya yang 260 derajat. Tujuannya agar powerband lebih meningkat di putaran atas.

Jika begitu, tentu penerus daya pun perlu dibenahi lagi. Agar tenaga yang dikeluarkan mesin bisa tersalurkan tanpa hambatan, maka kampas kopling dan per koplingnya harus tidak selip kala menerima tenaga yang lebih besar itu.

Kampas dan per kopling bisa pakai tipe racing, di pasaran kampas kopling yang sama dengan Jupiter MX ini dijual Rp 150 ribu dan per-nya sekitar Rp 110 ribu. Lantas knalpot pun diganti tipe free flow agar tarikannya semakin lepas.

Kampas dan per kopling peranti wajib penerus daya

Camshaft durasi tinggi, galak di putaran atas
 

Per kopling racing

CDI racing
Begitu pun Scorpio, seperti dilakukan Tomy Huang dari BRT, dengan porting dan polish pada saluran masuk dan buang, agar pasokan bahan bakar masuk ke dalam ruang bakar semakin lancar, serta gas buang pun tersalurkan ke luar dengan lebih baik.

Sistem pengapian pun bisa dibenahi lagi dengan sistem CDI yang mampu mengubah kurva pengapian, seperti BRT misalnya, pada putaran di bawah 3.000 kondisinya normal dan pengapian akan maju ketika putaran mesin sudah beranjak di atas 5.000 rpm. Knalpot pun bisa dipasangkan agar peningkatan performanya menjadi lebih optimal.

Sementara Byson, menurut Tomy Huang dari Bintang Racing Team, di Jl. Mayor Oking, Cibinong, Bogor, karena masih tergolong pendatang baru, belum banyak yang mengaplikasi di mesinnya. "Baru membuat CDI-nya saja," ujar Tomy.  Tetapi, bukan tak mungkin paket bore-up seperti V-Ixion pun bisa diterapkan pada Byson, belum lagi beragam jenis knalpot yang bisa dipasang ke tunggangan yang ban standarnya berukuran 120/60 itu.

Tiga Langkah Terapkan Stroke-Up !



OTOMOTIFNET
- Untuk mendapatkan kapasitas silinder yang lebih besar lagi, biasanya selain mengaplikasi piston berdiameter gede, ditambah dengan memanjangkan langkah pistonnya. Makanya gak heran kalau dengar ada motor yang kapasitas mesinnya bisa 3 kali lipat lebih besar dari kapasitas standar.

Paling sering ditemui pembesaran kapasitas segede itu di Yamaha Mio. Skutik berlambang Garputala ini kapasitas mesin standarnya kan cuma 115 cc. Tapi bisa dibig-bore hingga 300 cc, bahkan sampai 350 cc. Weleh..weleh..!

Nah, guna mendapatkan kapasitas mesin sebesar itu tentu tak cukup hanya mengganti piston berdiameter gede. “Stroke-nya juga mesti naik banyak,” bilang Jessi Ligasiswanto, bos speed shop JP Racing yang beralamat di Jln. Cendrawasih No.6 E-F, Sawah Lama, Ciputat, Tangerang.

Pemanjangan langkah piston tersebut bisa dilakukan pakai 3 cara. Yakni menggeser lubang big end (pin kruk as) agak keluar, bisa juga cukup mengganti pen stroke pakai yang model offset atau sering disebut pen stroker. Atau mengaplikasi kruk as yang stroke-nya sudah naik.


Kalau enggan coak ruang kruk as di crank case bawaan mptor, bisa tebus crank case big bore custom jadi

Part yang disebut terakhir untuk Mio/Nouvo belakangan sudah mulai banyak di pasaran. Enggak tanggung-tanggung lo, ada yang stroke-upnya hingga 82 mm. Padahal stroke standar Mio cuma 57,9 mm. Artinya pemanjangan langkah pistonnya sampai 24,1 mm. Weekks...kok bisa?

Seperti bikinan lokal yang ada di gerai JP Racing. “Itu hasil modifikasi pakai kruk as motor lain yang diameter bandulnya lebih gede dari standar Mio. Diameter bandul mencapai 112 mm dan pakai setang seher K125,” bilang Coki, sapaan akrab Jessi sembari menyebutkan angka Rp 3 juta untuk part tersebut. Oooo..pantez!

Ada juga, lanjut Coki, buatan Taiwan dengan panjang stroke 76 dan 78 mm. Diameter bandulnya cuma 108 mm. “Kalau yang ini (made in Taiwan), gak ada las-lasan kayak yang buatan lokal tadi. Mirip kruk as standar, tapi diameter bandulnya gede. Khusus dirancang untuk Mio/Nouvo penganut big bore,” terangnya. Banderolnya sama, yaitu Rp 3 Juta.

Atau kalau mau lirik produk custom dari Jepang, bisa sambangi gerai MC Racing di Jl. Kebon Jeruk IX, Kota, Jakbar. “Panjang stroke mulai 7 mm, 8 mm sampai 9 mm. Tinggal pasang dan sudah dijamin presisi,” beber Marcel, punggawa MC Racing. Banderolnya mulai Rp 2,5 – 3,5 juta.

Namun syaratnya bila mengaplikasi kruk as stroke-up seperti ini, ruang kruk as di crank-case mesti diperbesar lantaran diameter bandul kruk as lebih gede dari standar bawaan pabrik. Atau kalau enggan repot, bisa tebus crank-case big bore jadi yang ruang kruk asnya sudah digedein. Banderolnya sekitar Rp 1.750.000.

“Selain itu paking blok silinder bawah mesti pakai yang tebal,” tambah Marcel. Boleh custom sendiri di tukang bubut pakai pelat aluminium, atau beli jadi. Harganya berkisar Rp 75 – 250 ribu tergantung tebalnya. Mulai yang 3 mm, 5 mm, 6 mm, 13 mm hingga 35 mm pun ada.
Tertarik?.

MC Racing : 021-62202361
JP Racing : 021-70993827

Paket Bore-Up Yamaha V-ixion

Karena V-Ixion berpendingin air, di mana jalurnya dekat seher, jika memperbesar diameter piston terlalu besar, maka jarak yang tersisa di celah dengan jalur air radiator akan terlalu tipis, rawan bocor.

Tapi tenang, untuk bikin motor itu bertenaga, beberapa toko menawarkan paket bore-up kok. “Bore-up kit yang kita tawarkan isinya; blok mesin, piston diameter gede, ring piston dan pen piston,” kata Teddy Cong, dari Global Motorindo di Jl. Letjen Suprapto No.60, Galur, Johar Baru, Jakpus. “Produk yang saya jual berlabel Yoshi seharga Rp 550 ribu. Kita juga melayani pemasangan sekalian setting kok.”

Rudy Jaya Motor (RJM) di Jl. Dewi Sartika 32, Tangerang, juga menjual paket bore-up motor ini. “Isinya sama, tapi yang kita jual tanpa merek atau sering disebut blank. Harganya Rp 600 ribu,” aku Ade, karyawan RJM.

Nah bagi motormania pembesut Yamaha Scorpio maupun V-Ixion yang berencana bore-up atau kohar pada tungggangannya, sebagai gambaran dan pertimbangan, bisa sambangi bengkel tersebut di atas.

V-Ixion
Global Motorindo (021-42876931), Bore-up 165,9 cc = Rp 700 ribu

Isi paket: bore-up kit Yoshi (piston 60 mm), pasang dan setting CO. Pengerjaan 1 hari.


Rudy Jaya Motor (021-7430062), Bore-up 165,9 cc = Rp 750 ribu

Isi paket: bore-up kit blank (piston 60 mm), pasang dan setting CO. Pengerjaan 1 hari.

Catatan:
V-Ixion; Diameter x langkah piston = 57 mm x 58,7 = 149,7 cc

Bore-Up Yamaha V-Ixion Paket Hemat

Untuk melakukan pembengkakan kapasitas me­sin, tentu seperti umum­nya motor lain, piston dengan diameter lebih besar bisa dilakukan. Pada Yamaha V-Ixion pun demikian, "Mengganti piston lebih besar pasti meningkatkan tenaga mesin," ujar Juffry Willar dari Mitra2000.

Buat tunggangan yang masih dipakai sehari-hari, tentu ada batasan toleransi agar masih enak digunakan dan nyaman, tentu tidak merepotkan penggunanya. "Bisa menggunakan diameter piston paling besar 61 mm," tuturnya.

Namun, menurutnya, paling ideal sih menggunakan piston diameter 60 mm. "Ada paketnya, komplet set, untuk bore-up V-Ixion," kata Juffry lagi. Seperti paket yang tersedia di gerai Mitra2000 salah satunya.

Sebenarnya paket bore-up ini disiapkan untuk Yamaha Jupiter MX, “Tetapi karena sama persis dengan V-Ixion bisa dipakai juga buat V-Ixion,” ujar Juffry.


Radiator V-Ixion tak perlu ada perubahan

Kampas kopling diganti jika perlu

Oli tetep sama, hanya waktu ganti lebih dekat
Apa saja yang terdapat pada paket itu? Juffry pun menuturkan dengan cukup lengkap. Mulai dari piston dan ring pistonnya, kemudian ada juga pen piston serta blok silinder, tak kurang, gasket pun disediakan juga dalam satu paket ini.

Jadi, sistemnya sama dengan plug n play saja. Tinggal pasang langsung bisa dinyalakan tunggangannya. Untuk paket ini, dilego dengan harga Rp 797 ribu, komplet set! Jika ingin langsung dipasang, tinggal tambah ongkos pasang saja Rp 400 ribu.

Dengan memasang paket bore-up ini, kapasitas mesin pun melonjak jadi 166 cc, cukup jauh bukan? Otomatis tenaganya pun semakin galak. Apalagi, jika dipasangkan knalpot free flow agar saluran gas buang semakin lancar, sesuai dengan gas yang terbakar dalam ruang bakar yang semakin melimpah.

"Knalpot ini (TDR, red) dijual dengan harga Rp 930 ribu," ungkap Juffry. Tetapi, tentu pilihan knalpot lainnya pun bisa diraih dari gerai-gerai aksesori yang menjual knalpot untuk Yamaha V-Ixion.

Ada lagi, peranti yang mungkin perlu diganti baru, yaitu kampas kopling, agar tenaga dari mesin yang meningkat ini bisa tersalurkan dengan baik ke roda belakang. Namun, jika dirasa masih bisa mengimbangi kemampuan mesinnya, kopling ini tak perlu diganti baru.

Lantas, apa sih perlakuan yang perlu diperhatikan penggunanya, ketika tunggangan sudah menambah kapasitas mesin seperti pada V-Ixion ini? "Tentu soal pelumas mesin, sebaiknya lebih cepat diganti, misal jika biasanya diganti sekitar 1.500 km, maka sekarang tiap 1.000 km saja diganti olinya," jelasnya.

Alasannya, dengan kapasitas mesin lebih besar, ruang bakar pun bertambah volumenya, sehingga panas yang dihasilkan dalam ruang bakar pun semakin tinggi, karena itu, penggunaan oli pun menjadi lebih banyak, karena suhunya meningkat.

"Karena mesinnya lebih panas dari biasanya, kalau sudah bore-up," jelasnya. Lalu, bagaimana dengan sistem pendinginan mesinnya? "Radiator dan air radiator tak perlu perlakuan khusus, tetap seperti semula saja," katanya.